Kanker Leher Rahim

        Tentu anda sudah tak asing lagi dengan istilah kanker servik (Cervical Cancer), atau kanker pada leher rahim. Benar, sesuai dengan namanya, kanker leher rahim adalah kanker yang terjadi pada servik uterus, suatu daerah pada organ reproduksi wanita yang merupakan pintu masuk ke arah rahim yang terletak antara rahim (uterus) dengan liang senggama (vagina). Kanker ini biasanya terjadi pada wanita yang telah berumur, tetapi bukti statistik menunjukan bahwa kanker leher rahim dapat juga menyerang wanita yang berumur antara 20 sampai 30 tahun.
        Memang istilah "kanker" sendiri sudah pasti memberi kesan menakutkan dan menyeramkan. Laksana seorang terpidana menerima hukuman mati.

Bagaimana pula dengan kanker leher rahim?
Apakah juga sama menakutkannya dengan beberapa kanker lainnya?
Menurut para ahli kanker, kanker leher rahim adalah salah satu jenis kanker yang paling dapat dicegah dan paling dapat disembuhkan dari semua kasus kanker. Tetapi, biarpun demikian, di wilayah Australia barat saja, tercatat sebanyak 85 orang wanita didiagnosa positif terhadap kanker leher rahim setiap tahun. Dan pada tahun 1993 saja, 40 wanita telah tewas menjadi korban keganasan kanker ini.

Bagaimanakah kanker leher rahim terjadi?
Layaknya semua kanker, kanker leher rahim terjadi ditandai dengan adanya pertumbuhan sel-sel pada leher rahim yang tidak lazim (abnormal). Tetapi sebelum sel-sel tersebut menjadi sel-sel kanker, terjadi beberapa perubahan yang dialami oleh sel-sel tersebut. Perubahan sel-sel tersebut biasanya memakan waktu sampai bertahun-tahun sebelum sel-sel tadi berubah menjadi sel-sel kanker. Selama jeda tersebut, pengobatan yang tepat akan segera dapat menghentikan sel-sel yang abnormal tersebut sebelum berubah menjadi sel kanker. Sel-sel yang abnormal tersebut dapat dideteksi kehadirannya dengan suatu test yang disebut "Pap smear test", sehingga semakin dini sel-sel abnormal tadi terdeteksi, semakin rendahlah resiko seseorang menderita kanker leher rahim.
Memang Pap smear test adalah suatu test yang aman dan murah dan telah dipakai bertahun-tahun lamanya untuk mendeteksi kelainan-kelainan yang terjadi pada sel-sel leher rahim. Test ini ditemukan pertama kali oleh Dr. George Papanicolou, sehingga dinamakan Pap smear test. Pap smear test adalah suatu metode pemeriksaan sel-sel yang diambil dari leher rahim dan kemudian diperiksa di bawah mikroskop untuk melihat perubahan-perubahan yang terjadi dari sel tersebut. Perubahan sel-sel leher rahim yang terdeteksi secara dini akan memungkinkan beberapa tindakan pengobatan diambil sebelum sel-sel tersebut dapat berkembang menjadi sel kanker.
Test ini hanya memerlukan waktu beberapa menit saja. Dalam keadaan berbaring terlentang, sebuah alat yang dinamakan spekulum akan dimasukan kedalam liang senggama. Alat ini berfungsi untuk membuka dan menahan dinding vagina supaya tetap terbuka, sehingga memungkinkan pandangan yang bebas dan leher rahim terlihat dengan jelas. Sel-sel leher rahim kemudian diambil dengan cara mengusap leher rahim dengan sebuah alat yang dinamakan spatula, suatu alat yang menyerupai tangkai pada es krim, dan usapan tersebut dioleskan pada obyek-glass, dan kemudian dikirim ke laboratorium patologi untuk pemeriksaan yang lebih teliti.
Prosedur pemeriksaan Pap smear test mungkin sangat tidak menyenangkan untuk anda, tetapi tidak akan menimbulkan rasa sakit. Mungkin anda lebih memilih dokter wanita untuk prosedur ini, tetapi pada umumnya para dokter umum dan klinik Keluarga Berencana dapat dimintai bantuan untuk pemeriksaan Pap smear test. Usahakanlah melakukan Pap smear test ini pada waktu seminggu atau dua minggu setelah berakhirnya masa menstruasi anda. Jika anda sudah mati haid, Pap smear test dapat anda lakukan kapan saja. Tetapi jika kandung rahim dan leher rahim telah diangkat atau dioperasi (hysterectomy atau operasi pengangkatan kandung rahim dan leher rahim), anda tidak perlu lagi melakukan Pap smear test karena anda sudah terbebas dari resiko menderita kanker leher rahim. Pap smear test biasanya dilakukan setiap dua tahun sekali, dan lebih baik dilakukan secara teratur. Hal yang harus selalu diingat adalah tidak ada kata terlambat untuk melakukan Pap smear test. Pap smear test selalu diperlukan biarpun anda tidak lagi melakukan aktifitas seksual.

Bagaimanakah Tanda-tanda Kanker Serviks?
Perubahan awal yang terjadi pada sel leher rahim tidak selalu merupakan suatu tanda-tanda kanker. Pemeriksaan Pap smear test yang teratur sangat diperlukan untuk mengetahui lebih dini adanya perubahan awal dari sel-sel kanker. Perubahan sel-sel kanker selanjutnya dapat menyebabkan perdarahan setelah aktivitas sexual atau diantara masa menstruasi.
Jika anda mendapatkan tanda-tanda tersebut, sebaiknya anda segera melakukan pemeriksaan ke dokter. Adanya perubahan ataupun keluarnya cairan (discharge) ini bukanlah suatu hal yang normal, dan pemeriksaan yang teliti harus segera dilakukan walaupun anda baru saja melakukan Pap smear test. Biarpun begitu, pada umumnya, setelah dilakukan pemeriksaan yang teliti, hasilnya tidak selalu positip kanker.

Pengobatan
Seperti pada kejadian penyakit yang lain, jika perubahan awal dapat dideteksi seawal mungkin, tindakan pengobatan dapat diberikan sedini mungkin. Jika perubahan awal telah diketahui pengobatan yang umum diberikan adalah dengan:
  1. Pemanasan, diathermy atau dengan sinar laser.
  2. Cone biopsi, yaitu dengan cara mengambil sedikit dari sel-sel leher rahim, termasuk sel yang mengalami perubahan. Tindakan ini memungkinkan pemeriksaan yang lebih teliti untuk memastikan adanya sel-sel yang mengalami perubahan. Pemeriksaan ini dapat dilakukan oleh ahli kandungan.
Jika perjalanan penyakit telah sampai pada tahap pre-kanker, dan kanker leher rahim telah dapat diidentifikasi, maka untuk penyembuhan, beberapa hal yang dapat dilakukan adalah:
  1. Operasi, yaitu dengan mengambil daerah yang terserang kanker, biasanya uterus beserta leher rahimnya.
  2. Radioterapi yaitu dengan menggunakan sinar X berkekuatan tinggi yang dapat dilakukan secara internal maupun eksternal.
Resiko untuk terserang kanker:
Setiap wanita yang pernah melakukan hubungan seksual mempunyai resiko terhadap kanker leher rahim. Sel-sel leher rahim mungkin mengalami perubahan sehingga sangat diperlukan melakukan Pap smear test secara teratur (baik yang telah ataupun yang belum pernah mendapatkan Pap smear test). Demikian juga bagi anda yang merokok kemungkinan untuk mendapatkan kanker leher rahim sangat besar.
Dijumpainya Human Papilloma Virus (HPV) sering diduga sebagai penyebab terjadinya perubahan yang abnormal dari sel-sel leher rahim.
Memiliki pasangan seksual yang berganti-ganti atau memulai aktifitas seksual pada usia yang sangat muda juga memperbesar resiko kemungkinan mendapat kanker leher rahim.
Apa yang harus anda lakukan untuk menghindari kanker leher rahim ?
Yang pertama, jika anda pernah melakukan hubungan seksual anda harus melakukan Pap smear test secara teratur setiap dua tahun dan ini dilakukan sampai anda berusia 70 tahun. Pada beberapa kasus mungkin dokter menyarankan untuk melakukan Pap smear test lebih sering.
Hal yang ke dua adalah melaporkan adanya gejala-gejala yang tidak normal seperti adanya perdarahan, terutama setelah coitus (senggama).
Hal yang ke tiga adalah tidak merokok. Data statistik melaporkan bahwa resiko terserang kanker leher rahim akan menjadi lebih tinggi jika wanita merokok.
Dengan melakukan beberapa tindakan yang dapat memperkecil resiko tersebut, mudah-mudahan kita dijauhkan dari kejadian kanker leher rahim ini. Semoga.
Dapatkah anda membayangkan, bagaimanakah perasaan anda jika mengetahui hasil pemeriksaan 'Pap Smear' anda memberikan hasil abnormal? Tentulah anda akan merasa kuatir dan cemas, manakala anda mendapati bahwa hasil pemeriksaan 'Pap Smear' anda abnormal. Tetapi janganlah terlalu cemas dahulu, karena tidak semua penampakan sel-sel yang abnormal tersebut berarti kanker. Memang 'Pap Smear' dapat mendeteksi kelainan-kelainan perubahan sel-sel leher rahim secara dini. Paradigma yang harus diingat adalah semakin awal ditemukannya kelainan-kelainan pada pemeriksaan 'Pap Smear', maka akan semakin mudah pula diatasi masalahnya.
Apakah artinya jika 'Pap Smear' anda abnormal.
Hasil 'Pap Smear' dikatakan abnormal jika sel-sel yang berasal dari leher rahim anda ketika diperiksa di bawah mikroskop akan memberikan penampakan yang berbeda dengan sel normal. Kejadian ini biasanya terjadi 1 dari 10 pemeriksaan 'Pap Smear'. Beberapa faktor yang dapat memberikan indikasi diketemukannya penampakan 'Pap Smear' yang abnormal adalah:
  1. Unsatisfactory 'Pap Smear'
    Pada kasus ini, berarti pegawai di Lab tersebut tidak bisa melihat sel-sel leher rahims anda dengan detail sehingga gagal untuk membuat suatu laporan yang komprehensive kepada dokter anda. Jika kasus ini menimpa anda sebaiknya anda datang lagi untuk pemeriksaan 'Pap Smear' pada waktu yang akan ditentukan oleh dokter anda.
  2. Jika ada infeksi atau inflamasi
    Kadang-kadang pada pemeriksaan 'Pap Smear' memberikan penampakan terjadinya inflamasi. Ini berarti bahwa sel-sel di dalam leher rahims mengalami suatu iritasi yang ringan sifatnya. Memang kadang-kadang inflamasi dapat kita deteksi melalui pemeriksaan 'Pap Smear', biarpun kita tidak merasakan keluhan-keluhan karena tidak terasanya gejala klinis yang ditimbulkannya. Sebabnya bermacam-macam. Mungkin telah terjadi infeksi yang dikarenakan oleh bakteri, atau karena jamur'. Konsultasikan dengan dokter anda mengenai masalah ini beserta pengobatannya jika diperlukan. Tanyakan kapan anda harus menjalani 'Pap Smear' lagi.
  3. Atypia atau Minor Atypia
    Yang dimaksud dengan keadaan ini adalah jika pada pemeriksaan 'Pap Smear' terdeteksi perubahan-perubahan sel-sel leher rahims, tetapi sangat minor dan penyebabnya tidak jelas. Pada kasus ini, biasanya hasilnya dilaporkan sebagai 'atypia'. Biasanya terjadinya perubahan penampakan sel-sel tersebut dikarenakan adanya peradangan, tetapi tidak jarang pula karena infeksi virus. Karena untuk membuat suatu diagnosa yang definitif tidak memungkinkan pada tahap ini, dokter anda mungkin akan merekomendasikan anda untuk menjalani pemeriksaan lagi dalam waktu enam bulan. Pada umumnya, sel-sel tersebut akan kembali menjadi normal lagi. Jadi, adalah sangat penting bagi anda untuk melakukan 'Pap Smear' lagi untuk memastikan bahwa kelainan-kelainan yang tampak pada pemeriksaan pertama tersebut adalah gangguan yang tidak serius. Jika hasil pemeriksaan menghasilkan hasil yang sama maka anda mungkin disarankan untuk menjalani kolposkopi.

Apakah kolposkopi itu?
Kolposkopi adalah suatu prosedur pemeriksaan vagina dan leher rahims oleh seorang dokter yang berpengalaman dalam bidang tersebut. Dengan memeriksa permukaan leher rahims, dokter akan menentukan penyebab abnormalitas dari sel-sel leher rahims seperti yang dinyatakan dalam pemeriksaan 'Pap Smear'. Cara pemeriksaan kolposkopi adalah sebagai berikut: dokter akan memasukkan suatu cairan kedalam vagina dan memberi warna saluran leher rahims dengan suatu cairan yang membuat permukaan leher rahims yang mengandung sel-sel yang abnormal terwarnai.. Kemudian dokter akan melihat kedalam saluran leher rahims melalui sebuah alat yang disebut kolposkop. Kolposkop adalah suatu alat semacam mikroskop binocular yang mempergunakan sinar yang kuat dengan pembesaran yang tinggi.
Jika area yang abnormal sudah terlokalisasi, dokter akan mengambil sampel pada jaringan tersebut (melakukan biopsi) untuk kemudian dikirim ke lab guna pemeriksaan yang mendetail dan akurat. Pengobatan akan sangat tergantung sekali pada hasil pemeriksaan kolposkopi anda.

Bagaimanakah dengan aktifitas seksual anda?
Pada tahap ini, anda tidak perlu kuatir dengan aktifitas seksual anda. Anda tidak perlu absen melakukan aktifitas seksual hanya karena pemeriksaan 'Pap Smear' anda positip, karena keadaan kanker atau pre-kanker yang anda derita tidak mungkin ditularkan kepada suami anda. Tetapi jika sedang dalam pengobatan penyembuhan, sebaiknya tanyakanlah kepada dokter anda kapan anda dapat melakukan hubungan sanggama lagi dan seberapa seringnya hubungan tersebut.

Perlukah dilakukan pemeriksaan lanjutan sesudah selesainya pengobatan?
Pemeriksaan lanjutan sesudah selesainya masa pengobatan adalah mutlak diperlukan untuk mendapatkan kepastian bahwa area yang telah diobati telah sembuh sama sekali. Biarpun metode pengobatan yang anda dapatkan sangat efektif, sel-sel yang abnormal kadang-kadang dapat kambuh lagi, bahkan dapat berkembang dengan derajat keparahan yang lebih tinggi. Jadi deteksi dini adalah hal yang sangat esensial sekali. Selama dua tahun pertama masa pengobatan anda, anda disarankan untuk menjalani pemeriksaan 'Pap Smear' setiap tiga bulan atau enam bulan sekali. Jika setelah tiga kali pemeriksaan berturut-turut hasil 'Pap Smear' anda normal, ini berarti anda telah dapat dinyatakan sembuh, dan anda dapat melakukan pemeriksaan 'Pap Smear' tersebut setiap tahun sekali secara kontinyu.

Ectopic Pregnancy


An ectopic pregnancy is a complication of pregnancy in which the fertilized ovum is implanted in any tissue other than the uterine wall. Most ectopic pregnancies occur in the Fallopian tube (so-called tubal pregnancies), but implantation can also occur in the cervix, ovaries, and abdomen. The fetus produces enzymes that allow it to implant in varied types of tissues, and thus an embryo implanted elsewhere than the uterus can cause great tissue damage in its efforts to reach a sufficient supply of blood.

An ectopic pregnancy is a medical emergency and if not treated properly can lead to the death of the mother.

In a normal pregnancy, the fertilized egg enters the uterus and settles into the uterine lining where it has plenty of room to divide and grow. About 1% of pregnancies are in an ectopic location with implantation not occurring inside of the womb, and of these 98% occur in the Fallopian ट्यूब.

In a typical ectopic pregnancy, the embryo does not reach the uterus, but instead adheres to the lining of the Fallopian tube. The implanted embryo burrows actively into the tubal lining. Most commonly this invades vessels and will cause bleeding. This intratubal bleeding (hematosalpinx) expels the implantation out of the tubal end as a tubal abortion. Some women thinking they are having a miscarriage are actually having a tubal abortion. There is no inflammation of the tube in ectopic pregnancy. The pain is caused by prostaglandins released at the implantation site, and by free blood in the peritoneal cavity, which is a local irritant. Sometimes the bleeding might be heavy enough to threaten the health or life of the woman. Usually this degree of bleeding is due to delay in diagnosis, but sometimes, especially if the implantation is in the proximal tube (just before it enters the uterus), it may invade into the nearby Sampson artery, causing heavy bleeding earlier than usual.

If left untreated, about half of ectopic pregnancies will resolve without treatment. These are the tubal abortions. The advent of methotrexate treatment for ectopic pregnancy has reduced the need for surgery; however, surgical intervention is still required in cases where the Fallopian tube has ruptured or is in danger of doing so. This intervention may be laparoscopic or through a larger incision, known as a laparotomy.

Causes

There are a number of risk factors for ectopic pregnancies. They include: pelvic inflammatory disease, infertility, those who have been exposed to DES, tubal surgery, smoking, previous ectopic pregnancy, multiple sexual partners, current IUD use, tubal ligation, and previous abortion.

Cilial damage and tube occlusion

Hair-like cilia located on the internal surface of the Fallopian tubes carry the fertilized egg to the uterus. Damage to the cilia or blockage of the Fallopian tubes is likely to lead to an ectopic pregnancy. Women with pelvic inflammatory disease (PID) have a high occurrence of ectopic pregnancy. This results from the build-up of scar tissue in the Fallopian tubes, causing damage to cilia. If however both tubes were occluded by PID, pregnancy would not occur and this would be protective against ectopic pregnancy. Tubal surgery for damaged tubes might remove this protection and increase the risk of ectopic pregnancy. Tubal ligation can predispose to ectopic pregnancy. Seventy percent of pregnancies after tubal cautery are ectopic, while 70% of pregnancies after tubal clips are intrauterine. Reversal of tubal sterilization (Tubal reversal) carries a risk for ectopic pregnancy. This is higher if more destructive methods of tubal ligation (tubal cautery, partial removal of the tubes) have been used than less destructive methods (tubal clipping). A history of ectopic pregnancy increases the risk of future occurrences to about 10%. This risk is not reduced by removing the affected tube, even if the other tube appears normal. The best method for diagnosing this is to do an early ultrasound.

Other

Patients are at higher risk for ectopic pregnancy with advancing age. Also, it has been noted that smoking is associated with ectopic risk. Vaginal douching is thought by some to increase ectopic pregnancies; this is speculative. Women exposed to diethylstilbestrol (DES) in utero (aka "DES Daughters") also have an elevated risk of ectopic pregnancy, up to 3 times the risk of unexposed women.

Symptoms

Early symptoms are either absent or subtle. Clinical presentation of ectopic pregnancy occurs at a mean of 7.2 weeks after the last normal menstrual period, with a range of 5 to 8 weeks. Later presentations are more common in communities deprived of modern diagnostic ability.

The early signs are:

  • Pain in the lower abdomen, and inflammation (Pain may be confused with a strong stomach pain, it may also feel like a strong cramp)
  • Pain while urinating
  • Pain and discomfort, usually mild. A corpus luteum on the ovary in a normal pregnancy may give very similar symptoms.
  • Vaginal bleeding, usually mild. An ectopic pregnancy is usually a failing pregnancy and falling levels of progesterone from the corpus luteum on the ovary cause withdrawal bleeding. This can be indistinguishable from an early miscarriage or the 'implantation bleed' of a normal early pregnancy.
  • Pain while having a bowel movement

Patients with a late ectopic pregnancy typically experience pain and bleeding. This bleeding will be both vaginal and internal and has two discrete pathophysiologic mechanisms.

  • External bleeding is due to the falling progesterone levels.
  • Internal bleeding (hematoperitoneum) is due to hemorrhage from the affected tube.

The differential diagnosis at this point is between miscarriage, ectopic pregnancy, and early normal pregnancy. The presence of a positive pregnancy test virtually rules out pelvic infection as it is rare indeed to find pregnancy with an active Pelvic Inflammatory Disease (PID). The most common misdiagnosis assigned to early ectopic pregnancy is PID.

More severe internal bleeding may cause:

  • Lower back, abdominal, or pelvic pain.
  • Shoulder pain. This is caused by free blood tracking up the abdominal cavity, and is an ominous sign.
  • There may be cramping or even tenderness on one side of the pelvis.
  • The pain is of recent onset, meaning it must be differentiated from cyclical pelvic pain, and is often getting worse.
  • Ectopic pregnancy can mimic symptoms of other diseases such as appendicitis, other gastrointestinal disorder, problems of the urinary system, as well as pelvic inflammatory disease and other gynaecologic problems.

Diagnosis

An ectopic pregnancy should be considered in any woman with abdominal pain or vaginal bleeding who has a positive pregnancy test.

An ultrasound showing a gestational sac with fetal heart in the fallopian tube is clear evidence of ectopic pregnancy.

An abnormal rise in blood βhCG levels may also indicate an ectopic pregnancy. The threshold of discrimination of intrauterine pregnancy today is around 1500 IU/ml of β-human chorionic gonadotropin (βhCG). A high resolution, vaginal ultrasound scan showing no intrauterine pregnancy is presumptive evidence that an ectopic pregnancy is present if the threshold of discrimination for βhCG has been reached. An empty uterus with levels lower than 1500 IU/ml may be evidence of an ectopic pregnancy, but may also be consistent with an intrauterine pregnancy which is simply too small to be seen on ultrasound. If the diagnosis is uncertain, it may be necessary to wait a few days and repeat the blood work and ultrasound. If the βhCG falls on repeat examination, this strongly suggests an abortion or rupture.

Free fluid which is non-echogenic is a normal finding in the late menstrual cycle and early normal pregnancy. This is a transudate and is not presumptive evidence of bleeding. Echogenic free fluid suggests the presence of blood clot and is suggestive of free blood in the peritoneum.

A laparoscopy or laparotomy can also be performed to visually confirm an ectopic pregnancy. Often if a tubal abortion has occurred, or a tubal rupture has occurred, it is difficult to find the pregnancy tissue. A laparoscopy in very early ectopic pregnancy rarely shows a normal looking fallopian tube.

A less commonly performed test, a culdocentesis, may be used to look for internal bleeding. In this test, a needle is inserted into the space at the very top of the vagina, behind the uterus and in front of the rectum. Any blood or fluid found there likely comes from a ruptured ectopic pregnancy.

Cullen's sign can indicate a ruptured ectopic pregnancy.

Nontubal ectopic pregnancy

Two percent of ectopic pregnancies occur in the ovary, cervix, or are intraabdominal. Transvaginal ultrasound examination is usually able to detect a cervical pregnancy. An ovarian pregnancy is differentiated from a tubal pregnancy by the Spiegelberg criteria.

While a fetus of ectopic pregnancy is typically not viable, very rarely, a live baby has been salvaged from an abdominal pregnancy. In such a situation the placenta sits on the intraabdominal organs or the peritoneum and has found sufficient blood supply. This is generally bowel or mesentery, but other sites, such as the renal (kidney), liver or hepatic (liver) artery or even aorta have been described. Support to near viability has occasionally been described, but even in third world countries, the diagnosis is most commonly made at 16 to 20 weeks gestation. Such a fetus would have to be delivered by laparotomy. Maternal morbidity and mortality from extrauterine pregnancy is high as attempts to remove the placenta from the organs to which it is attached usually lead to uncontrollable bleeding from the attachment site. If the organ to which the placenta is attached is removable, such as a section of bowel, then the placenta should be removed together with that organ. This is such a rare occurrence that true data are unavailable and reliance must be made on anecdotal reports. However, the vast majority of abdominal pregnancies require intervention well before fetal viability because of the risk of hemorrhage.

On 19 April 2008 an English woman, Jayne Jones (age 37) who had an ectopic pregnancy attached to the omentum, the fatty covering of her large bowel, gave birth. The baby was delivered by a laparotomy at 28 weeks gestation. The surgery, the first of its kind to be performed in the UK, was successful, and both mother and baby survived.

On May 29, 2008 an Australian woman, Meera Thangarajah (age 34), who had an ectopic pregnancy in the ovary, gave birth to a healthy full term 6 pound 3 ounce (2.8 kg) baby girl, Durga, via Caesarean section. She had no problems or complications during the 38 week pregnancy.

Heterotopic Pregnancy

In rare cases of ectopic pregnancy, there may actually be two fertilized eggs, one outside the uterus and the other inside. This is called a heterotopic pregnancy. Often the intrauterine pregnancy is discovered later than the ectopic, mainly because of the painful, emergency nature of ectopic pregnancies. Since ectopic pregnancies are normally discovered and removed very early in the pregnancy, an ultrasound may not find the additional pregnancy inside the uterus. When hCG levels continue to rise after the removal of the ectopic pregnancy, there is the chance that a pregnancy inside the uterus is still viable. This is normally discovered through an ultrasound.

Although rare, with the continual increase of IVFs, heterotopic pregnancies are becoming more and more common. However, these pregnancies are still considered moderate to high risk. The survival rate of the uterine fetus of an ectopic pregnancy is around 70%.

This link describes a case of a burst tubal pregnancy continuing by the placenta implanting on the outside of the uterus, plus intrauterine twins; laparotomy rescued three live babies. The intrauterine twins (Olivia and Mary) were removed first, then the extra-uterine baby (Ronan), who was in the bottom of her pelvic cavity.

Treatment

Nonsurgical treatment

Early treatment of an ectopic pregnancy with the antimetabolite methotrexate has proven to be a viable alternative to surgical treatment since 1993 (though the literature dates back to at least 1989). If administered early in the pregnancy, methotrexate can disrupt the growth of the developing embryo causing the cessation of pregnancy.

Surgical treatment

If hemorrhaging has already occurred, surgical intervention may be necessary if there is evidence of ongoing blood loss. However, as already stated, about half of ectopics result in tubal abortion and are self limiting. The option to go to surgery is thus often a difficult decision to make in an obviously stable patient with minimal evidence of blood clot on ultrasound.

Surgeons use laparoscopy or laparotomy to gain access to the pelvis and can either incise the affected Fallopian and remove only the pregnancy (salpingostomy) or remove the affected tube with the pregnancy (salpingectomy). The first successful surgery for an ectopic pregnancy was performed by Robert Lawson Tait in 1883.

Chances of future pregnancy

The chance of future pregnancy depends on the status of the adnexa left behind. The chance of recurrent ectopic pregnancy is about 10% and depends on whether the affected tube was repaired (salpingostomy) or removed (salpingectomy). Successful pregnancy rates vary widely between different centuries, and appear to be operator dependent. Pregnancy rates with successful methotrexate treatment compare favorably with the highest reported pregnancy rates. Often, patients may have to resort to in vitro fertilisation to achieve a successful pregnancy. The use of in vitro fertilisation does not preclude further ectopic pregnancies, but the likelihood is reduced.

Complications

The most common complication is rupture with internal bleeding that leads to shock. Death from rupture is rare in women who have access to modern medical facilities. Infertility occurs in 10 - 15% of women who have had an ectopic pregnancy.(फ्रॉम विकिमेडिया)

Comparison of the effects of Letrozole and Clomiphene Citrate towards endometrial thickness, amount and size of follicles for couples wishing to get


I Ketut Agus Sunatha

Dr.I.P.G.Wardhiana,SpOG(K)

Background: Data shows that 20-25% of infertile women have ovulation disturbances which needs medical intervention by means of ovulation induction with clomiphene citrate as the most widely used medicine. Since the year 2001 many research

had been done which supports the use of letrozole as an individual induction medicine or used in combination with exogenic FSH, and because of is advantages many researchers predict that it will be the drug of choice for the treatment of anovulation infertility.

Objective: The purpose of this study is to find the differences in effects and advantages between letrozole and clomiphene citrate for couples wishing to get pregnant.

Method: Double blind randomized design. All woman attending the fertility policlinics at Sanglah General Hospital who are eligible fo the study since December 2006 were admitted.

Sampling were done consecutively by simple randomization. Observation of endometrial thickness were done at the end of the proliferation phase and follicle development on day twelve.

Result: There were significant differences in the mean preovulation follicles between the two groups ( clomiphene ; 2,08±0,669, letrozole ; 1,50±0,52 ). There were also significant differences in the mean preovulation diameter of the follicles between he two groups ( clomiphene ; 19,56±4,23mm, letrozole ; 22,43±2,09mm ). Endometrium were thicker in the letrozole group (letrozole; 9,70±1,87mm; clomiphene citrate ; 9,14±2,24mm) but statistically there were no significant differences.

Conclusion: There were statistical differences between the use of letrozole and clomiphene citrate in the amount and size of the follicles, but not in the thickness of the endometrium.

Keywords: clomiphene citrate, endometrial thickness, follicle size, follicle diameter.

A doctor goes to work in a remote community in Flores

Print E-mail

Remote communities in Indonesia suffer from a lack of doctors, nurses and midwives. The Temporary Contract Employee (PTT) program requires doctors to spend two years working in a remote area before they can open a practice. Besides helping the local community, it also allows the doctor to experience some of Indonesia’s diversity.

Dr I Ketut Agus Sunatha graduated from medical school in his home province of Bali in 2002. He was then posted to Ritaebang, West Solor, off the island of Flores, for two years. He departed, leaving his wife and young son in Bali. This is his own account of his experience.

The journey to Ritaebang, West Solor, was exhausting. I waited for two weeks in Kupang to receive my placement but finally I was able to go. I took a ferry from Kupang to Larantuka, Flores, and then a smaller boat to Pamakayo, on the island of Solor. I wasn’t used to ocean travel. From there, I got onto a truck which had been modified to serve as a bus. When I arrived in the village of Nusa Doni, a free health clinic run by the Ritaebang puskesmas (community health centre) was underway. The people seemed happy to see me, perhaps because there hadn’t been a doctor there for a long time. There were so many patients that I forgot my weariness from the journey as I treated them.

Afterwards, I departed for the village of Ritaebang with the puskesmas staff, on the truck-bus. I was surprised at the unpaved, dusty roads weaving through the rough terrain. It was so different to the roads in Larantuka. But I had made a commitment to myself: ‘wherever I am sent, I will be strong and steady, as everything is arranged by God.’ Arriving in Ritaebang, I discovered that the town was not what I expected for a sub-district (kecamatan) capital — it was more of a village, and a very isolated one.

On my first day there, I was given food which I had never tried before in Bali: cassava leaves with papaya flowers. The cassava leaves were very bitter, but after a week I became addicted to them. It is said that the leaves help to prevent malaria, a dis ase I was afraid of catching.


Malaria and diarrhoea

The staff at the puskesmas all welcomed me and gradually I came to know them. I was worried I would disappoint them, as there were many patients. The most common illnesses were respiratory infections, malaria, rheumatism and diarrhoea, all of which could be treated with puskesmas medicines.

West Solor consists of 17 villages, the most remote being Lewotanalein, which is on top of a hill, and cannot be reached by car. I was very worried about this village, which did not have even a midwife. A trail bike donated to us by the Health for All Foundation was very useful in getting to the more remote villages. We had no ambulance, and no funding for one, and our office motorcycles were very old and not suitable. With the donated trail bike, we tried to offer free services to those 17 villages every month. It was very tough work, but I felt that if I did this God would give me strength and abundant rewards.


A mother’s death

We held regular public health meetings in order to provide the latest health information to the villagers. One day I was very distressed because I couldn’t help a woman who had experienced haemorrhaging after giving birth at home. I arrived at her village after travelling for two hours, to find her already cold after losing a lot of blood, and in the end she died. This experience made me wonder how to deal with these emergencies, since the medical staff are few and far between — there are only nine midwives to serve 17 villages in such a vast territory.

After one year in Ritaebang I became very close with the staff and the community there. I felt appreciated by the locals, who often gave me vegetables, fruit and other foods.

Eventually I was able to enjoy living in Ritaebang, since it was so peaceful and beautiful. The white sandy beach reminded me of Kuta Beach in Bali. Two years had gone by, and I had come to the end of my tenure in Ritaebang. The puskesmas staff and the villagers seemed sorry to see me go. I was also very sad to leave them. But I had to be strong and steady, just like when I arrived.

Dr I Ketut Agus Sunatha (agus_sunatha@yahoo.com) is a doctor in Bali.

MENCINTAI TANPA SYARAT???


BISAKAH KITA MENCINTAI
TANPA SYARAT


Ini cerita nyata. Beliau adalah Bapak Eko Pratomo, Direktur Fortis Asset Management yang sangat terkenal di kalangan Pasar Modal dan Investment, beliau juga sangat sukses dalam memajukan industri reksadana di Indonesia. Apa yang diutarakan beliau adalah sangat benar sekali : MAMPUKAH KITA MENCINTAI TANPA SYARAT.

SEBUAH PERENUNGAN

Dilihat dari usianya beliau sudah tidak muda lagi, usia yang sudah senja bahkan sudah mendekati malam. Pak Suyatno, 58 tahun, kesehariannya diisi dengan merawat istrinya yang sakit. Istrinya juga sudah tua. Mereka menikah sudah lebih 32 tahun dan dikarunia 4 orang anak. Di sinilah awal cobaan menerpa. Setelah istrinya melahirkan anak ke empat tiba-tiba kakinya lumpuh dan tidak bisa digerakkan. Itu terjadi selama 2 tahun. Menginjak tahun ke tiga seluruh tubuhnya menjadi lemah bahkan terasa tidak bertulang, lidahnya pun sudah tidak bisa digerakkan lagi.

Setiap hari Pak Suyatno memandikan, membersihkan kotoran, menyuapi dan mengangkat istrinya ke atas tempat tidur. Sebelum berangkat kerja dia letakkan istrinya di depan TV supaya istrinya tidak merasa kesepian. Walau istrinya tidak dapat bicara tapi dia selalu melihat istrinya tersenyum, untunglah tempat usaha Pak Suyatno tidak begitu jauh dari rumahnya sehingga siang hari dia bisa pulang untuk menyuapi istrinya makan siang. Sorenya dia pulang memandikan istrinya, mengganti pakaian dan selepas maghrib dia temani istrinya nonton televisi sambil menceritakan apa-apa saja yang dia alami seharian. Walaupun istrinya hanya bisa memandang tapi tidak bisa menanggapi, Pak Suyatno sudah cukup senang, bahkan dia selalu menggoda istrinya setiap berangkat tidur. Rutinitas ini dilakukan Pak Suyatno lebih kurang 25 tahun, dengan sabar dia merawat istrinya bahkan sambil membesarkan ke empat buah hati mereka. Sekarang anak-anak mereka sudah dewasa, tinggal si bungsu yang masih kuliah.

Pada suatu hari ke empat anak Suyatno berkumpul di rumah orang tua mereka sambil menjenguk ibunya. Karena setelah menikah mereka tinggal dengan keluarga masing-masing dan Pak Suyatno memutuskan ibu mereka dialah yang merawatnya. Yang dia inginkan hanya satu semua anaknya berhasil. Dengan kalimat yang cukup hati-hati anak yang sulung berkata, "Pak, kami ingin sekali merawat ibu. Semenjak kami kecil melihat bapak merawat ibu tidak ada sedikitpun keluhan keluar dari bibir bapak, bahkan bapak tidak ijinkan kami menjaga ibu.” Dengan air mata berlinang anak itu melanjutkan kata-katanya, "Sudah yang ke empat kalinya kami mengijinkan bapak menikah lagi. Kami rasa ibu pun akan mengijinkannya. Kapan bapak menikmati masa tua bapak dengan berkorban seperti ini. Kami sudah tidak tega melihat bapak. Kami berjanji akan merawat ibu dengan sebaik-baiknya secara bergantian.”

Pak Suyatno menjawab hal yang sama sekali tidak diduga anak-anak mereka. "Anak-anakku... Jikalau perkawinan dan hidup di dunia ini hanya untuk nafsu, mungkin bapak akan menikah. Tapi ketahuilah, dengan adanya ibu kalian di sampingku, itu sudah lebih dari cukup. Dia telah melahirkan kalian...” Sejenak kerongkongannya tersekat, “Kalian yang selalu kurindukan, hadir di dunia ini dengan penuh cinta yang tidak satu pun dapat menghargai dengan apa pun. Coba kalian tanya ibumu apakah dia menginginkan keadaannya seperti ini. Kalian menginginkan bapak bahagia, apakah batin bapak bisa bahagia meninggalkan ibumu dengan keadaannya sekarang. Kalian menginginkan bapak yang masih diberi Tuhan kesehatan dirawat oleh orang lain, bagaimana dengan ibumu yang masih sakit."

Sejenak meledaklah tangis anak-anak Pak Suyatno. Mereka pun melihat butiran-butiran kecil jatuh di pelupuk mata Ibu Suyatno. Dengan pilu ditatapnya mata suami yang sangat dicintainya itu.

Sampai akhirnya Pak Suyatno diundang oleh salah satu stasiun TV swasta untuk menjadi nara sumber. Merekapun mengajukan pertanyaan kepada Pak Suyatno kenapa mampu bertahan selama 25 tahun merawat istrinya yang sudah tidak bisa apa-apa. Di saat itulah meledak tangis beliau. Tamu yang hadir di studio yang kebanyakan kaum perempuan pun tidak sanggup menahan haru. Di situlah Pak Suyatno bercerita, "Jika manusia di dunia ini mengagungkan sebuah cinta dalam perkawinannya, tetapi tidak mau memberi (memberi waktu, tenaga, pikiran dan perhatian) adalah kesia-siaan. Saya memilih istri saya menjadi pendamping hidup saya. Sewaktu dia sehat dia pun dengan sabar merawat saya, mencintai saya dengan hati dan batinnya, bukan dengan mata. Dan dia memberi saya 4 orang anak yang lucu-lucu. Sekarang dia sakit karena berkorban untuk cinta kita bersama. Itu merupakan ujian bagi saya, apakah saya dapat memegang komitmen untuk mencintainya apa adanya. Sehatpun belum tentu saya mencari penggantinya apalagi dia sakit…"

Bila Anda merasa bahan renungan ini sangat bermanfaat bagi Anda dan bagi orang lain, mohon kirim e-mail ini ke teman, famili dan kerabat Anda lainnya. Semoga bermanfaat.

Arisan Residen


Saya usul untuk meningkatkan hubungan bathin antar residen OBGYN,perlu dibuat acara arisan untuk semua residen.Bisa diadakan setiap bulan dengan suasana rileks. Dan mengajak semua anggota keluarga.
Dan usul residen Obgin yaitu kelurahan membuat blog. SEGERA!!!!!!!!!!!!!!!!!!

Semoga pikiran yang baik datang terus menerus dari segala penjuru arah mata angin.

Spirit Love and Smile Society
Salam

Agus Sunatha

Love and Smile Society

Love and Smile Society

Dari tanggal 6 September lalu, saya mengikuti Pradik (Pra Pendidikan) di RS Sanglah. Ini adalah sebuah prasyarat sebelum para residen yang sudah diterima untuk menjalani pendidikan spesialisasi memulai aktivitasnya di RS tersebut. Saya rasa hal seperti ini sungguh bermanfaat, banyak hal yang bisa didapatkan seperti pengenalan, tata tertib, mekanisme pelayanan rumah sakit, tehnik komunikasi pasien-dokter, masalah rekam medis, aspek hukum dalam dunia kedokteran, etika kedokteran, Inform Concern, kegiatan outbound ke Bedugul dan masih banyak lagi. Dan besok akan diselenggarakan penutupan untuk kegiatan ini. Banyak hal baru yang membuka pikiran saya, salah satunya akan saya angkat pada tulisan kali ini: “Love and Smile Society“.

Materi ini dibawakan oleh dr. Nyoman Hariyasa Sanjaya, Sp.OG. Beliau adalah salah seorang staf pengajar di bagian Kandungan dan Kebidanan RS Sanglah, sekaligus seorang motivator. Beliau memulainya dengan menggali pikiran-pikiran kami tentang apa yang kami rasakan ketika memasuki sebuah tempat ibadah, maka jawaban-jawaban seperti “Rasa tenang, damai dan tentram” adalah hal umum yang akan kita berikan. Kemudian beliau melanjutkan apa yang dirasakan ketika memasuksi Rumah Sakit, maka jawaban-jawaban yang muncul adalah “Rasa takut, tegang, cemas” dan sebangsanya. Pertanyaan berikutnya adalah “Apa saja hal-hal buruk tentang RS Sanglah?“. Dengan mudah jawaban-jawaban yang muncul adalah pelayanan yang tidak ramah, birokrasi yang membingungkan, tempat parkir yang semrawut, suasana lingkungan yang kotor, dsb…

Ternyata, berada di rumah sakit masih dianggap seperti berada di “neraka” bagi kebanyakan orang. Lalu, apakah kita hanya berdiam diri saja? Seperti kata seorang pakar kenegaraan, bila Bangsa Indonesia kita biarkan berjalan dengan Korupsi, Kolusi dan Nepotisme yang merajalela, maka dalam 50 tahun ke depan Bangsa Indonesia hanya tinggal sejarah. Maka harus ada yang berani memulai untuk “bersih-bersih” seperti sepak terjang KPK selama ini. Begitu juga dengan RS Sanglah, bila semua hal negatif tersebut kita biarkan begitu saja, bukan hal yang mustahil dalam 50 tahun ke depan RS Sanglah tinggal kenangan… Karena hal itulah dr. Hariyasa mengajak kami semua untuk ikut bergabung dalam”Love and Smile Society” sebuah gerakan moral untuk membuat RS Sanglah yang seperti “neraka” menjadi seperti “surga”.

Being a “Good Person” is like being a “Goal Keeper” - no matter how many goals we save, people remember only the ones we missed.

Menjadi “Orang Baik” seperti menjadi “Penjaga Gawang” - tak peduli seberapa banyak gol yang kita selamatkan, orang-orang hanya mengingat yang luput dari kita. Begitu juga dengan profesi dokter (dan mungkin begitu juga dengan profesi yang lain), orang mungkin tak akan mengingat seberapa banyak jasa yang sudah dilakukan, namun begitu kita melakukan sebuah kesalahan, orang akan mengingat selamanya.

Love and Smile Society adalah sebuah gerakan moral yang dimulai dari diri sendiri, dari masing-masing individu, untuk selau ingat bahwa dalam bekerja melayani masyarakat haruslah dengan “cinta kasih” dan tidak melupakan “senyuman”. Kita dapat memulainya dari hal-hal sederhana seperti misalnya menunjukkan jalan menuju ke sebuah ruang perawatan di Rumah Sakit bagi pengunjung pasien. Iya, bagi para medis mungkin saja RS Sanglah sudah seperti rumah sendiri, namun bagi pasien dan pengunjungnya, bisa jadi lorong-lorong rumah sakit seperti sebuah labirin tak berujung (meski sudah ada papan penunjuk jalan di setiap persimpangan).

Setelah di awal acara kita sudah mengetahui “hal-hal buruk tentang RS Sanglah”, di akhir acara, dr. Hariyasa meminta saya untuk menyebutkan “10 Hal baik tentang RS Sanglah“. Ternyata tidak mudah, sungguh, namun setidaknya setelah acara tersebut kita belajar untuk melihat hal positif dari sesuatu yang mungkin bagi kebanyakan orang adalah buruk. Ok, berikut 10 Hal baik tentang RS Sanglah:

RS Sanglah adalah rumah sakit pertama di Bali yang sudah melayani masyarakat sejak puluhan tahun lalu.
RS Sanglah menjadi rumah sakit rujukan bagi rumah sakit daerah di Bali bahkan sampai ke Nusa Tenggara.
RS Sanglah menjadi rumah sakit pendidikan bagi para dokter, dokter spesialis, dan tenaga perawat.
RS Sanglah memberikan pelayanan gratis bagi masyarakat miskin melalu kerja samanya dengan Askeskin atau Jamkesmas.
RS Sanglah juga memberikan pelayanan gratis bagi pegawai negeri melalui program Askes.
RS Sanglah telah memberikan tarif yang murah (meski mahal dan murah itu adalah relatif), bahkan memberikan tenggang waktu kepada pasien dalam membayar biaya perawatan.
RS Sanglah memiliki Wing International, yang memberikan pelayanan berstandar internasional.
RS Sanglah berperan dalam menangani korban ledakan Bom di Bali tahun 2002 dan 2005.
RS Sanglah merupakan rumah sakit siaga bencana yang ikut mengirimkan tenaga medis untuk menangani korban bencana seperti pada bencana Tsunami Aceh dan bencana gempa bumi di Yogjakarta.
Satu lagi, RS Sanglah memiliki “Love and Smile Society” yang mau belajar dan berusaha untuk dapat memberikan pelayanan yang lebih baik kepada masyarakat.
Mudah-mudahan, niat baik ini dapat sampai kepada masyarakat agar mereka mengetahui bahwa seberapa miringnya pandangan masyarakat terhadap profesi kedokteran dan kesehatan, kami tidak hanya berdiam diri saja dan selalu berusaha untuk menjadi lebih baik lagi…

Be Healthy, Be Happy… and Be Positive!

Tags: Dokter, rumah sakit, Sanglah

Dikutip dari www.andaka.com